Israel Gempur Gaza

Israel Gempur Gaza: Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Ketegangan antara Israel dan Hamas kembali meningkat setelah serangkaian serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 20 warga Palestina di Jalur Gaza. Insiden ini terjadi setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan “kuat dan langsung” menyusul laporan bentrokan di Rafah, wilayah selatan Gaza.

Serangan Balasan di Tengah Gencatan Senjata

Menurut laporan dari militer Israel, pasukan mereka diserang menggunakan RPG dan tembakan sniper di timur Rafah. Serangan itu memicu perintah dari Netanyahu untuk melancarkan operasi besar-besaran. Namun, pihak Hamas membantah melakukan serangan terhadap pasukan Israel dan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata yang disepakati di bawah mediasi Amerika Serikat.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa gencatan senjata masih berlaku, meskipun diwarnai bentrokan kecil di beberapa titik.

Di Gaza, situasi semakin memburuk. Rumah sakit di Gaza City dan Khan Younis melaporkan bahwa korban tewas termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan di kawasan Sabra bahkan menyebabkan kerusakan berat pada bangunan sipil dan menimbulkan kepanikan besar di sekitar Rumah Sakit Al-Shifa.

Keterlibatan AS dan Reaksi Internasional

Laporan Associated Press menyebutkan bahwa Israel telah memberi tahu Washington sebelum meluncurkan serangan. Namun, sejumlah pejabat AS menilai langkah tersebut bisa mengguncang stabilitas gencatan senjata yang baru berjalan sejak 10 Oktober.

Di sisi lain, Hamas menunda penyerahan jenazah sandera yang sebelumnya dijadwalkan. Kelompok Brigade Qassam mengatakan bahwa serangan Israel “akan menghambat operasi pencarian dan penggalian jenazah para sandera yang tersisa.”

Hamas menegaskan bahwa pihaknya masih berkomitmen terhadap perjanjian gencatan senjata. “Israel harus berhenti menyebar tuduhan palsu dan menghormati kesepakatan,” kata Suhail al-Hindi, anggota biro politik Hamas di Gaza.

Krisis Kemanusiaan dan Pelanggaran Gencatan Senjata

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak gencatan senjata dimulai, sedikitnya 94 warga Palestina telah tewas akibat serangan berkelanjutan. Israel juga masih membatasi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan warga di wilayah tersebut.

Hamas menyebut serangan terbaru sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian Sharm el-Sheikh”, yang ditandatangani di bawah pengawasan Presiden AS Donald Trump.

Berikut tabel ringkas mengenai dampak serangan terbaru di Gaza:

Lokasi SeranganJumlah Korban TewasKorban LukaKeterangan
Sabra, Gaza City415Serangan pada gedung pemukiman
Khan Younis, Gaza Selatan520Termasuk anak-anak dan wanita
Sekitar Al-Shifa Hospital310Menyebabkan kepanikan besar
Total12+50+Data dari sumber medis Gaza

Video Kontroversial dan Tuduhan Baru

Situasi semakin panas setelah IDF (Pasukan Pertahanan Israel) merilis video drone yang diklaim menunjukkan Hamas memalsukan penemuan jenazah sandera. Dalam video berdurasi 15 menit itu, terlihat tiga pria menggali dan mengubur sebuah kain putih, lalu berpura-pura menemukan jasad di hadapan staf Palang Merah.

Palang Merah membantah mengetahui adanya jenazah sebelum tiba di lokasi. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai hal “tidak dapat diterima” dan memperingatkan bahwa pemalsuan seperti itu bisa merusak kepercayaan publik terhadap proses kemanusiaan.

Namun, CNN belum dapat memverifikasi keaslian video tersebut maupun identitas para pria dalam rekaman itu.

Netanyahu di Bawah Tekanan

Netanyahu menghadapi tekanan besar dari kabinet sayap kanan. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menyerukan penghancuran total Hamas, sementara Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mendesak penangkapan kembali tahanan Palestina yang sebelumnya dibebaskan.

Beberapa analis menilai bahwa Netanyahu tengah menguji batas kesabaran Amerika Serikat dan mencoba mengembalikan eskalasi untuk memperkuat posisi politiknya di dalam negeri.

Menurut Muhammad Shehada dari European Council on Foreign Relations, “Netanyahu sejak awal mencari celah untuk melanjutkan operasi militer di Gaza dengan dalih pelanggaran oleh Hamas.”

Namun, analis politik Israel Ori Goldberg berpandangan bahwa gencatan senjata tidak akan runtuh sepenuhnya, karena AS dan mitra regional sudah terlalu dalam terlibat untuk membiarkan perjanjian itu gagal.

Kesimpulan: Gencatan Senjata di Ujung Krisis

Ketegangan antara Israel dan Hamas kini berada di titik kritis. Meski AS bersikeras gencatan senjata masih berlaku, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Serangan, tuduhan pelanggaran, dan perang informasi terus memperburuk keadaan di Gaza.

Jika kekerasan tidak segera berhenti, maka harapan untuk mencapai perdamaian jangka panjang akan semakin jauh. Dunia kini menanti langkah nyata dari kedua pihak agar gencatan senjata benar-benar dipatuhi, bukan sekadar menjadi janji kosong di tengah penderitaan rakyat Palestina.